Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Oh tralala trilili

 Oh tralala trilili


Aku pernah merasa seperti ini :


"Saat ini, duniaku seolah berhenti berputar, meski di luar sana segalanya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ada rasa sesak yang begitu menghimpit di dada, sebuah beban berat yang tak kasat mata namun terasa nyata setiap kali aku mencoba bernapas. Rasanya sepi sekali, seolah-olah warna-warna di sekitarku memudar menjadi abu-abu, meninggalkan kekosongan yang tidak tahu bagaimana cara mengisinya kembali."

"Aku merasa seperti sedang berjalan di tengah kabut yang tebal, tersesat dalam kenangan dan sisa-sisa kehadiran yang kini hanya berupa bayang. Ada begitu banyak kata yang belum sempat terucap, begitu banyak keinginan yang kini hanya menjadi angan. Kehilangan ini bukan sekadar tentang perpisahan, tapi tentang sebagian dari diriku yang seolah ikut pergi dan takkan pernah kembali dengan cara yang sama lagi."

"Terkadang aku hanya ingin diam, membiarkan air mata menjadi bahasa bagi segala lara yang tak mampu dieja oleh kata-kata. Aku lelah berpura-pura kuat, lelah melempar senyum saat hatiku sebenarnya sedang hancur berkeping-keping. Saat ini, aku hanya butuh waktu untuk merangkul dukaku, untuk mengakui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, dan untuk meratapi ruang hampa yang kini menjadi teman setiaku."


Pesan untukmu:
Menangislah jika perlu, jangan menahan segalanya sendirian. Duka tidak memiliki jadwal atau batas waktu. Ambillah waktu sebanyak yang kamu butuhkan untuk bernapas dan memproses ini semua. Jika kamu ingin bercerita lebih lanjut tentang apa yang kamu rasakan atau tentang siapa yang kamu tangisi, aku di sini untuk mendengarkan.

Post a Comment for "Oh tralala trilili"